Rupiah Tunggu Data Amerika dan BI Rate

Rupiah Tunggu Data Amerika dan BI Rate

Petugas bank menunjukkan empat pecahan uang pecahan kertas lama, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta (27/12). Empat pecahan uang kertas tahun emisi 1998 dan 1999 ini sudah tidak berlaku, dan hak penukaran uang rupiah tersebut tidak berlaku lagi setelah sepuluh tahun mendatang. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, Jakarta – Kurs rupiah diperkirakan akan melemah menyusul minimnya kabar positif dari dalam dan luar negeri. Ekonom dari PT Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, mengatakan pekan ini tekanan rupiah masih tinggi. “Kombinasi antara inflasi yang belum turun drastis dan tren naik tingkat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat diyakini sebagai penyebabnya,” ujar dia dalam riset mingguan yang diterima Tempo.

Tingkat inflasi sampai akhir Desember kemarin diumumkan jauh di bawah harapan sebesar 8,38 persen year-on-year. Sementara neraca perdagangan bulan November, meski surplus, tetap jauh di bawah ekspektasi pasar. “Menguat hanya tipis, sentimen negatif di pasar global menghambat laju rupiah untuk menguat tajam,” kata Rangga melanjutkan.

Sepanjang pekan lalu, tekanan terhadap rupiah bertambah dengan selisih kurs non deliverable forward satu bulan yang merangkak naik ke kisaran 12.200 per dolar AS. Menurut Rangga, konsentrasi pasar masih terfokus pada rencana pemangkasan stimulus (tapering) yang akan dikurangi pada Januari ini. “Ekspektasi tersebut mendorong penguatan dolar secara global, sehingga mayoritas mata uang melemah.”

Data ekonomi Cina menunjukkan hal yang sebaliknya. Data manufaktur melambat dari 50,9 ke 50,5. Sementara di Indonesia, walaupun pelemahan masih menghantui pergerakan harga aset keuangan, data fundamental perekonomian menunjukkan perbaikan tipis.

Tekanan jual diperkirakan sedikit memudar pada pekan ini  meski aksi beli hebat sepertinya belum akan muncul. Pasar akan menunggu dua data penting minggu ini, yaitu pengumuman BI Rate pada 9 Januari dan tingkat pengangguran AS pada 10 Januari.

Rangga memperkirakan, dengan tingkat imbal hasil yang terdorong cukup hebat, peluang dinaikkannya BI Rate menjadi semakin besar. Sementara itu, survei Bloomberg memperkirakan data pengangguran AS akan bertahan di level 7 persen. “Bila data pengangguran yang muncul lebih rendah, sentimen tapering yang lebih besar dipastikan kembali merekah.”

PDAT | M. AZHAR


Sumber: http://www.tempo.co/rss/bisnis

Speak Your Mind

*

*