Dolar AS Rp 14.000, Apa yang Bisa Dilakukan Pemerintah?

Jakarta -Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukan keperkasaannya terhadap mata uang banyak negara, tak terkecuali rupiah. Dolar AS sudah menembus level Rp 14.000.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menilai penguatan dolar AS terjadi akibat pertarungan mata uang negara-negara besar agar ekonominya tetap tumbuh. China dan AS adalah dua negara yang siap berebut kemenangan dalam perang tersebut.

Setelah krisis keuangan yang menghantam AS pada 2008 silam, berbagai pembenahan kembali dilakukan. ‎Terakhir, untuk menggenjot kembali ekonominya, Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) berencana menaikkan suku bunga.

Sementara China tengah memasuki periode perlambatan ekonomi. Diperkirakan ekonominya tahun ini hanya tumbuh di bawah 7%., padahal sebelumnya di atas 10%. Maka dari itu diambillah kebijakan devaluasi mata uang untuk mendorong ekspor.

Kemarin, Bank Sentral China (PBoC) juga mengumumkan penurunan suku bunga sebanyak 25 basis point menjadi 4,6%. Ini juga bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi tetap tinggi.

“Sekarang adalah pertarungan global. Negara-negara besar karena negara-negara itu inginkan ekonominya tetap tumbuh tinggi,” ungkapnya kepada detikFinance, Rabu (26/8/2015)

Ulah negara-negara besar ini menimbulkan ketidakpastian bagi investor. Maka tidak salah bila pasar keuangan bergejolak. Saham-saham hampir di semua negara berguguran. Begitu juga yang terjadi di Indonesia.Next

(mkl/ang)

Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com


Distribusi: finance.detik

Speak Your Mind

*

*