Tekanan Jual Reda, Ini Rekomendasi 7 Saham

INILAHCOM, Jakarta – Hingga penutupan sore nanti, laju IHSG diprediksi berfluktuasi dengan harapan tekanan jual mulai reda. Sejumlah katalis bisa memicu aksi beli selektif. Inilah rekomendasi tujuh saham.

David Sutyanto, analis riset First Asia Capital mengatakan, aksi panic selling kembali marak pada perdagangan saham kemarin. “Pemodal asing kembali mengurangi portofolio sahamnya yang mengindikasikan risiko pasar meningkat,” katanya kepada INILAHCOM, di Jakarta, Kamis (30/4/2015).

IHSG gagal bertahan di atas level 5.200. Sempat anjlok 227 poin sebelum akhirnya sedikit membaik di akhir sesi tutup di 5.105,563 atau terkoreksi 136,594 poin (2,6%). “Ini merupakan posisi terendah IHSG sejak perdagangan 18 Desember 2014 lalu,” ujarnya.

Pemodal asing mencatatkan nilai penjualan bersih Rp1,7 triliun. Selama pekan ini saja penjualan bersih asing telah mencapai Rp5,7 triliun. “Bila dilihat sejak awal tahun pembelian bersih asing hingga kemarin sudah menyusut hingga tinggal Rp12,6 triliun. Pelaku pasar belum melihat insentif positif untuk melakukan pembelian,” papar dia.

Sebaliknya terlihat peningkatan risiko, terutama terkait kinerja emiten kuartal I-2015 yang banyak mengecewakan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi kuartal I yang diperkirakan bisa di bawah 5%. Di sisi lain, pasar saham kawasan Asia kemarin juga kurang kondusif menanti hasil pertemuan The Fed.

Sementara Wall Street dan pasar saham zona Euro tadi malam kembali tutup di teritori negatif setelah data ekonomi AS kuartal pertama tahun ini hanya tumbuh 0,2%.

Angka tersebut melambat dari kuartal sebelumnya 2,2%.  “Pertumbuhan ekonomi AS tersebut juga lebih rendah dari perkiraan ekonom sebelumnya 1%,” ucapnya.

Akibat data ekonomi yang mengecewakan tersebut, dolar AS kembali anjlok terhadap sejumlah mata uang dunia seperti dengan Euro hingga di level US$1,11 per Euro. Menguatnya euro telah menekan pasar saham di zona Euro.

Indeks Eurostoxx kemarin koreksi 2,65%. Sedangkan di Wall Street indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan S&P masing-masing terkoreksi 0,41% dan 0,37% tutup di 18.035,53 dan 2.106,85.

Terkait hasil The Fed Meeting, pasar menyambut positif sinyal yang diberikan The Fed yang belum menentukan waktu kenaikan tingkat bunga karena sangat tergantung dengan data ekonomi yang ada. The Fed kemungkinan tidak akan menaikkan tingkat bunganya tahun ini.

Hasil pertemuan The Fed dan perlambatan ekonomi kuartal I-2015 di AS membuat dolar melemah dan harga minyak mentah kembali menguat hingga di US$58,68 per barel.

Pada perdagangan terakhir di bulan April ini, pergerakan IHSG masih akan berfluktuatif namun diharapkan tekanan jual mulai reda. Sejumlah katalis seperti hasil pertemuan The Fed tadi malam yang cukup positif bagi pasar, kenaikan harga minyak mentah dan peluang penguatan rupiah bisa memicu aksi beli selektif. “Apalagi, harga saham sektoral sudah relatif murah saat ini,” imbunya.

IHSG diperkirakan David bergerak volatile dengan support di 5.050 dan resisten di 5.140. Secara teknikal, support pertama indeks berada di 5.050 dan support kedua di posisi 4.950. Di sisi lain, resistance pertama di angka 5.140 dan resistance kedua di angka 5.200.

Di atas semau itu, dia menyodorkan beberapa saham pilihan sebagai bahan pertimbangan para pemodal. Saham-saham tersebut adalah:


Distribusi: Inilah.com – Pasarmodal

Speak Your Mind

*

*