Setiap Dolar Menguat Rp 100, Subsidi Listrik Bengkak Rp 1 Triliun

Jakarta -Faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sangat mempengaruhi jumlah subsidi listrik karena faktor BBM untuk pembangkit dan komponen infrastruktur listrik yang masih impor. Jika setiap dolar menguat terhadap rupiah sebesar Rp 100, maka subsidi listrik makin bengkak.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman mengakui adanya pengaruh langsung antara pelemahan nilai tukar pupiah dan naiknya harga minyak dunia, yang berdampak pada kenaikan biaya pokok produksi listrik di Indonesia.

Jarman mengatakan peningkatan beban produksi ini pada akhrinya akan berpengaruh pada penambahan subsidi untuk penyediaan listrik, yang dianggarkan pemerintah. Menurutnya setiap pelemahan rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 100, maka bisa meningkatkan beban subsidi hingga Rp 1,1 triliun.

“Kalau berubah 100 rupiah melemah saja, bisa nambah subsidi Rp 1,1 triliun,” kata Jarman di Kantornya, Jakarta, Rabu (18/6/2014).

Selain nilai tukar, faktor meningkatnya harga minyak dunia juga berpengaruh terhadap subsidi listrik. Penyebabnya karena masih banyak pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber energi dari gas namun penetapan harganya masih dikaitkan dengan harga minyak.

“Itu problemnya, karena harga gas (untuk sektor kelistrikan) dikaitkan dengan ICP (Indonesian Crude Price), jadi harga gasnya akan naik kalau harga minyaknya naik. Contoh LNG FSRU Jabar (untuk pembangkit Muara Karang) pakai formula 11% dari ICP,” kata Jarman.

Jarman menambahkan, jika harga minyak meningkat ditambah dengan pelemahan nilai tukar rupiah, maka akan berdampak pada membengkaknya subsidi listrik.

Pihaknya berkomitmen menekan konsumsi BBM untuk sektor kelistrikan, sehingga beban produksinya tidak lagi terpengaruh oleh pelemahan mata uang dan kenaikan harga minya dunia.

Jarman menambahkan tahun ini ditargetkan penggunaan BBM untuk pembangkit listrik hanya sebesar 6,5 juta Kilo liter (KL) atau 9,7% dari bauran energi.

“Kita lihat, contoh realisasi 2011 itu masih 11,2 juta KL, atau 23%. 2012 turun jadi 14,97 %, itu jadi 8,2 juta KL, 2013 turun lagi jadi 12,5% atau 7,4 KL. Nah tahun ini kita harap bisa turun lagi jadi 6,5 juta KL,” katanya.

(hen/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!


Distribusi: finance.detik

Speak Your Mind

*

*