Serempak Menguat di Asia-Pasifik, Rupiah Paling Tajam

Warga antre untuk menukarkan mata uang asing pada sebuah tempat penukaran mata uang asing di Mall Ambasador, Jakarta, 12 Maret 2015. Melemahnya Rupiah atas Dollar disebabkan banyak hal, seperti tren bertranksaksi dengan Dollar, dan meningkatnya permintaan Dollar. Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini rehat dari kejatuhannya dengan menguat 37,5 poin (0,28 persen) menjadi 13.207 per dolar AS. Penguatan ini tercatat paling tinggi di kawasan Asia-Pasifik, yang dalam perdagangan pagi ini serempak menguat terhadap dolar AS.

Won Korea menguat 1,43 poin (0,13 persen) menjadi 1.130 per dolar AS, rupee India menguat 0,15 poin (0,24) ke posisi 62,81 per dolar AS, yuan Cina naik 0,0076 poin (0,12 persen) menjadi 6,25 per dolar AS, dan ringgit Malaysia naik 0,0072 poin (0,19 persen) ke posisi 3,69 per dolar AS.

Penguatan hari ini terjadi di tengah spekulasi mengenai hasil pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) pada hari ini dan besok. Banyak analis yang memperkirakan bank sentral AS itu akan memberikan penegasan mengenai waktu kenaikan suku bunga The Fed (Fed’s Rate) yang pertama sejak 2006.

Prediksi para ekonom yang dihimpun kantor berita Reuters juga menunjukkan hasil yang hampir sama besar. Setengah ekonom memperkirakan suku bunga The Fed akan dinaikkan pada Juni tahun ini. Namun setengah ekonom lainnya memperkirakan kenaikan Fed’s Rate dilakukan setelah Juni.

Analis dari Monex Investindo Futures, Agus Chandra, mengatakan kemarin bahwa laju pergerakan rupiah masih dominan dipengaruhi spekulasi penaikan suku bunga The Fed ketimbang sentimen positif neraca perdagangan Indonesia pada Februari, yang surplus US$ 740 juta.

Menurut dia, menjelang pelaksanaan pertemuan FOMC pada 17-18 Maret, investor yang lebih mencemaskan kepastian Fed’s Rate akhirnya kian masif menjadikan dolar AS sebagai aset berlindung nilai aman. “Akibat rilis unemployment rate yang turun ke level 5,5 persen, investor kembali berfokus pada spekulasi Fed’s Rate,” ujarnya.

Agus menambahkan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi sikap pesimistis investor atas neraca dagang. Meskipun berhasil mencatatkan surplus, kinerja ekspor-impor nonmigas yang justru melambat memunculkan kekhawatiran terjadinya prospek pelemahan dalam jangka panjang. “Bila saat ini kinerja perdagangan nonmigas sudah turun, bagaimana bila Fed’s Rate sudah naik?”

EFRI RITONGA | MEGEL JEKSON


Distribusi: Tempo.co News Site

Speak Your Mind

*

*