Rupiah Menuju Level Keseimbangan Baru

Direktur Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartati – (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta – Direktur Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartati memproyeksikan pelemahan nilai tukar rupiah akan kembali menuju ke level keseimbangan baru. Yakni, Rp12.500 hingga Rp.13.000 per dolar AS.

“Memang perkiraan kami rupiah ini akhirnya menjadi keseimbangan baru lagi. Jadi kalau kemarin di APBN-P 2015 Rp12.500 per dolar AS, nah kemungkinan di atas itu keseimbangan barunya. Hitung-hitungan kami sih yang masih ‘available’ sekarang ya mustinya di atas Rp12.500 tapi masih di bawah Rp13.000 (per dolar AS),” ujar Enny di Jakarta, Rabu (18/03/2015).

Sebelumnya pada 2012, Bank Indonesia menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah disebut menuju level keseimbangan yang baru yakni di atas Rp9.500 per dolar AS, yang saat itu nilai tukar rupiah dinilai sedang dalam transisi menuju keseimbangan barunya sesuai kondisi fundamental di mana defisit transaksi berjalan yang memburuk.

Berdasarkan kurs JISDOR Bank Indonesia, nilai tukar rupiah pada Rabu ini kembali menguat menjadi Rp13.164 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya Rp13.209 per dolar AS. Menurut Enny, pelemahan nilai tukar rupiah pada level Rp12.500-Rp13.000 per dolar AS tidak akan menimbulkan efek psikologis yang berlebihan untuk pelaku usaha maupun juga masyarakat.

“Tapi itu kan dari sisi optimis, tapi jika kita lihat nanti kebijakan pemerintah ini kan banyak juga pelaku usaha menganggap ini kan paket-paket lama, selalu diulang lagi dan mereka masih meragukan efektivitasnya artinya meragukan konsistensi dan implementasi dari kebijakan itu sendiri,” jelas dia.

Namun, lanjut dia, apabila kebijakan stimulus fiskal dari pemerintah tidak efektif dan pemerintah tidak cukup berperan dalam memberikan berbagai macam stimulus, maka pelemahan rupiah akan sulit berhenti dan bisa jadi akan terus berlangsung sampai akhir tahun. Ia tidak dapat menentukan sampai di level berapa pelemahan rupiah bisa terjadi karena begitu dinamisnya perekonomian saat ini.

Ia menilai saat pemerintah tidak bisa mengendalikan nilai tukar rupiah sampai akhir Maret 2015, maka bisa memberikan citra negatif kepada pelaku pasar, yang berarti tidak akan ada kepercayaan lagi dan bisa menimbulkan masalah.

“Kita lihat dalam sebulan ini, kalau kebijakan-kebijakan pemerintah ini cukup efektif artinya tidak menimbulkan kepanikan buat pelaku bisnis. Kalau ini cukup menenangkan atau tidak, itu kan tergantung konsistensi dan konkret atau tidaknya langkah-langkah itu. Kalau benar-benar konkrit ini kan akan memberikan sentimen positif. Kalau dunia usaha memberikan sentimen positif, itu minimal sekali itu tidak ada spekulasi terhadap dolar,” ungkap dia.

Selain itu, ia menilai persoalan lainnya yakni dari eksternal terutama terkait kenaikan suku bunga yang diprediksi akan dilakukan oleh Bank Sentral Amerika The Fed pada semester kedua 2015.

“Apakah jadi atau tidak Amerika menaikkan suku bunga, kalau saya sih tidak. Kalau semuanya melemah terhadap Amerika, Amerika juga akan jualan kepada siapa, pasti ia juga akan hati-hati. Ini (perbaikan nilai tukar rupiah) terjadi kalau ada efektivitas kebijakan pemerintah dan tekanan eksternal relatif mereda. Persoalan fluktuasi rupiah ini kita harapkan hanya terjadi di bulan Maret ini saja, jadi April kita harapkan sudah mulai stabil,” kata dia. [tar]


Distribusi: Inilah.com – Pasarmodal

Speak Your Mind

*

*