QE Diakhiri, Efektifitasnya Dipertanyakan

shadow

FINANCEROLL – Sejak krisis keuangan terjadi pada 2008-2009, The Federal Reserve AS telah mencetak uang lebih banyak untuk mendorong perekonomian AS. Langkah ini kemudian dikenal sebagai “quantitative easing” (QE, – Kebijakan Kuantitatif) yang kabarnya akan diakhir pada Oktober ini. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Gubernur Bank Sentral AS, Janet Yellen pada Rabu (17/09/2014) bahwa QE tidal lagi diperlukan untuk mendukung perekonomian AS.

Hal mendasar dan krusial yang menjadi pertanyaan adalah apakah kebijakan tersebut diakhiri karena berhasil ataukah justru tidak berhasil. Sejumlah penelitian dan analisa yang dilakukan, menyimpulkan bahwa ada beberapa dari kebijakan QE yang memang berhasil, namun juga ada yang menyatakan bahwa kebijakan ini tidak efektif.

Kebijakan ini mulai dijalankan sejak AS didera krisis keuangan pada 2008-2009, QE pada dasarnya merupakan amunisi tradisional dari Bank Sentral manakala kehabisan peluru untuk memangkas suku bunga dan mulai mengkais-kais isi kantong mencari trik baru. Umumnya kebijakan ini dinyatakan sebagai suatu program “extraordinary stimulus”, dengan pondasi langkah-langkah pembelian obligasi oleh bank sentral AS untuk menurunkan suku bunga.

Kebijakan QE ini dijalankan oleh AS dalam tiga babak. Akhir 2008-2010 merupakan babak pertama dimana The Fed menyuntik hampir $2.1 trilyun untuk belanja surat utang dan sekuritas berbasis kredit (MBS). Program ini berhenti sementara setelah the Fed isyaratkan keyakinannya bahwa kondisi ekonomi As telah mengalami peningkatan.

Nyatanya, ekonomi AS mengecil kembali di tahun ity sehingga pada bulan November 2010 The Fed kembali meluncurkan QE babak kedua. QE kedua ini berakhir 2011 setelah The Fed membelanjakan tak kurang $600 milyar untuk belanja Obligasi dan MBS. Sekali lagi, meski The Fed cukup Optimis awalnya, namun di akhir 2012, The Fed kembali meluncurkan QE babak ketiga, kali ini setiap bulannya mereka belanja $85 milyar.  Pada awal 2014, The Fed mulai melakukan pengurangan besaran anggaran belanja Obligasi ini, yang dikenal sebagai “tapering” dan akan mengakhiri kebijakan QE ketiga ini pada Oktober nanti.

Pihak bank sentral AS sebelumnya telah mengumumkan adanya langkah melambatkan upaya-upaya mendukung perekonomian AS pada 18 Desember 2013 silam. Langkah tersebut meliputi pengurangan besaran anggaran yang dipakai untuk belanja Obligasi dari $85 milyar perbulan, secara bertahap dikurangi sebesar $10 milyar perbulan dan hingga kini tinggal $15 milyar perbulan. Oktober 2014 kebijakan ini akan diakhiri.

Rangsangan seperti ini dibuat untuk menurunkan suku bunga dan mendorong aktifitas ekonomi. Pihak The Fed sendiri menegaskan bahwa pertumbuhan lapangan kerja yang kuat sebagai satu alasan untuk mengambil keputusan bagi penurunan program belanja obligasi ini.

Pernyataan ini diambil setelah pertemuan Bank Sentral selama dua hari di Washington DC. Keputusan The Fed untuk mengurangi kebijakan stimulusnya itu juga mengindikasikan keyakinan Bank Sentral AS akan kondisi ekonomi AS yang pada akhirnya dianggap cukup kuat sehingga tidak memerlukan dukungan yang banyak kembali.

Pengurangan besaran anggaran belanja obligasi sebesar $10 milyar perbulan dijalankan dalam dua aspek. Pertama The Fed akan mengurangi belanja obligasi pemerintah dari $45 milyar menjadi tinggal $40 milyar per bulan  begitu juga belanja MBS dari $40 milyar menjadi hanya $35 milyar per bulan.

Sebagaimana dalam perkiraan mereka, tahun-tahun selanjutnya pertumbuhan pasar tenaga kerja AS berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan semula. Tahun 2014 diperkirakan pengangguran AS akan turun menjadi 6.3% dari posisi saat ini sebesar 7%. Dengan potensi tersebut, pengurangan akan kebijakan stimulus The Fed akan terjadi dimasa – masa yang akan datang.

Sebelum lengser, Gubernur Bank Sentral sebelumnya, Ben Bernanke menyatakan bahwa jika kondisi ekonomi mendukung dan sesuai dengan prasyarat untuk melakukan pengurangan kebijakan stimulus, maka pengurangan itu akan dilakukan. Ditambahkan olehnya bahwa kesinambungan kemajuan ini memang masih tidak menentu. Berbagai kebijakan tambahan masih akan ditambahkan dan akan tergantung pada perkembangan yang ada, tegasnya.

Efektifitas QE Dipertanyakan

Pada akhirnya, setidaknya 4 trilyun Dolar AS digelontorkan oleh the Fed untuk belanja berbagai bentuk obligasi. Sebagian besar akademisi setuju bahwa babak pertama kebijakan QE ini jalankan sangat sukses. Besaran dana yang dipakai juga cukup, yang kedua dianggap tidak tepat. Sebuah kajian yang dilakukan menunjukkan bahwa QE babak kedua hanya efektif sepertiganya saja dibandingkan yang pertama.

Kajian lain, yang dipublikasikan oleh Bank Sentral AS wilayah San Fransisco menunjukkan bahwa QE2 hanya menyumbangkan 0.13 persen poin bagi pertumbuhan ekonomi AS di 2010, yang saat itu hanya tumbuh 2.8%. Dalam kajian tersebut, dinyatakan pula harapan yang ditaruhkan oleh The Fed akan menaikkan suku bunga segera sehingga menimbulkan kepercayaan diri investor untuk mulai melakukan investasi kembali, tidak hanya sanggup mencetak uang saja.

Sebaliknya beberapa pendapat juga menyerang sikap The Fed yang dianggap terlalu lama untuk mengumumkan akan mengakhiri kebijakan belanja obligasi tersebut. Menunjuk pada capaian tertinggi indek bursa AS, seiring dengan kenaikan bea kredit atas sejumlah sektor seperti bunga pinjaman kredit kendaraan, sebagai indikasi bahwa suku bunga yang rendah telah mendorong resiko untuk berspekulasi. Dengan suku bunga yang rendah tersebut, nyatanya tidak semerta-merta membuat masyarakat AS melakukan kredit konsumsi. QE memang berhasil menurunkan bea kredit bagi perbankan, namun tetap saja pelaku pasar di Wall Street yang kantongnya lebih diuntungkan.

Setidaknya pada setiap kenaikan ekonomi di dunia ini, tidak lepas dari dijalankannya sejumlah kebijakan kuantitatif, Inggris dan Jepang misalnya adalah dua Negara yang menjalankan kebijakan QE dan Uni Eropa tengah mempertimbangkan kebijakan serupa pula.

Lebih jauh lagi, kebijakan mencetak uang As ini tentu berdampak bagi perekonomian global pula. Sebagaimana dinyatakan dalam terbitan European Central Bank (ECB) yang mempelajari dampak QE1 dan QE2 atas 65 negara berdaulat.  Kajian ini menemukan bahwa terdapat beberapa pecahan dan simpangan kebijakan moneter externalities yang diambil bagi Negara-negara maju. Lebih jauh lagi dikatakan bahwa pada QE1 berhasil membuat investor untuk memasukkan uangnya kedalam AS, QE2 justru membuat investor menanamkan investasinya dinegara lain, selain AS bahkan kepada Negara-pnegara berkembang. Akibatnya muncul gejolak atas aliran dana tersebut ke Negara-negara dimana ini akan berakhir manakala The Fed menarik QEnya.

Ditengah optimisme The Fed untuk mengakhiri kebijakan QE ini, The Fed diyakini akan mengeluarkan kebijakan lunak lainnya. Selanjutnya yang akan menghantui pasar adalah kapan The Fed akhirnya akan menaikkan suku bunga jangka pendek, dimana sejak 2008 sudah dipertahankan mendekati nol persen. Bagaimanakah nasib obligasi dan MBS senilai milyaran dolar yang sudah dibeli oleh The Fed?. Kini, hal itu semua masih belum ada jawabnya. (Lukman Hqeem)


Distribusi: Financeroll Indonesia

Speak Your Mind

*

*