Outlook Perdagangan Global di Semester Kedua

shadow

Hong Kong - Business Distric

FINANCEROLL – Pada kuartal kedua ini, pertumbuhan ekonomi Asia menunjukkan kondisi yang masih belum beranjak jauh dari kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ekspor mengalami tekanan khususnya di Negara-negara besar. Kondisi ini berakibat negative atas peluang yang lebih baik dari perusahaan-perusahaan tersebut untuk melakukan belanja modal.

Sementara itu, pertumbuhan domestik dikawasan ini masih cukup menjanjikan di beberapa Negara tertentu. Selain Cina, Malaysia dan Thailand adalah Negara dengan pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua ini yang sesuai atau lebih dari perkiraan awal, selebihnya Negara –negara dikawasan ini masih dibawah consensus awal yang diperkirakan.

Pertumbuhan ekspor Cina diangka 7.1% yoy yang merupakan angka signifikan dari penurunan di kuartal sebelumnya sebesar 0.8%. Nilai investasi di Cina memang masih lambat pertumbuhannya, hal ini cerminan dari keengganan pelaku bisnis di Cina yang tidak berani melakukan ekspansi saat ini. Dasar kekhawatiran investor adalah melemahnya pasar real estate Cina.

Hong Kong sendiri mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi, dari 2.6% yoy di tahun lalu menjadi hanya 1.8%  atas melemahnya permintaan domestik dan rendahnya ekspor. Lambannya pemulihan ekonomi global ditambah dengan arus wisatawan yang kecil dari Cina daratan berdampak kepada keprcayaan bisnis dan pasar tenaga kerja di Hong Kong. Masalah tenaga kerja dan upah yang lamban pertumbuhannya menggerus daya konsumsi rumah tangga. Alhasil, Yuan diperkirakan masih akan stabil sebelum melakukan penguatan lebih lanjut saat ekonomi Cina benar-benar merangkak bangun kembali, setidaknya dalam beberapa bulan mendatang.

Malaysia menikmati pertumbuhan 6.4% yoy, diatas Negara-negara tetangganya, dengan kekuatan ekspor yang lebih baik selain dampak konsolidasi fiscal yang dilakukkannya. Konsumsi rumah tangga dan investasi korporat bertahan cukup kuat sehingga pasar tenaga kerja Malaysia mampu naik dan investasi terus meningkat pula khususnya di sektor pendidikan dan pariwisata. Singapura juga mengalami pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan di kuartal kedua ini dengan mencapai angka 2.4% yoy sebagai hasil perekonomian negeri Singa yang berjuang mati-matian mempertahankan daya saingnya. Kenaikan upah yang terjadi sebagai dampak pertumbuhan ekonomi, disisi lain membuat investasi di sektor real estate melemah untuk pertama kalinya dalam 10 kuartal terkhir. Pertumbuhan ekonomi di Korea memang masih lemah sebagai dampak melempemnya angka ekspor, sama dengan Cina, Korea juga perlu menahan diri dalam melakukan ekspansi kapasitasnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lamban diangka 5.1%, sebagai cerminan adanya kontraksi ekspor di kuartal kedua, juga sebagai dampak  kebijakan moneter yang diperketat di tahun lalu untuk mendinginkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sementara angka konsumsi masih bertahan, larangan ekspor tambang mentah dan permintaan domestic turun membatasi keuntungan dari melemahnya Rupiah sejak di kuartal empat 2013.

Proses pemulihan perdagangan global yang masih lemah, membuat kinerja ekspor terganggu dimana pada akhirnya juga membuat investasi perusahaan mengalami perlambatan pula. Pada beberapa Negara, masih diperlukan ruang kebijakan stimulus secara terbatas guna mempercepat dan meningkatkan pertumbuhan domestik.

Bagaimanapun juga, kepercayaan atas perdagangan global akan membaik dimasa yang akan datang mengingat kondisi inventori AS yang mengalami koreksi telah pulih dan meningkat. Tren pasar tenaga kerja dan sentiment bisnis terus meningkat, sebagai bukti dari kondisi-kondisi yang memperkuat permintaan sehingga angka PMI naik. Eropa sendiri meski masih lamban, namun menyimpan potensi pertumbuhan dengan serangkaian kebijakan ransangan dari Bank Sentral Eropa, ECB.

Dengan demikian, sangat masuk akal apabila kita berharap adanya kenaikan secara moderat dalam pertumbuhan ekspor dan perekonomian secara keseluruhan. Perekonomian memang masih belum baik benar kondisinya di tahun ini, sulit juga mengharap akan lebih baik dimasa akhir tahun ini, pun demikian yang lebih baik adalah tetap adanya peningkatan. (RBS/Lukman Hqeem | @hqeem)


Distribusi: Financeroll Indonesia

Speak Your Mind

*

*