Optimisme dalam Batas Nilai Tukar Rp13.400

INILAHCOM, Jakarta – Krisis global yang belum kunjung reda memaksa otoritas keuangan banyak negara untuk memetakan kembali dan menyusun strategis perekonomiannya.

Indonesia tidak terkecuali yang merancang ulang tim ekonomi sekaligus merumuskan RAPBN 2016 dengan target pertumbuhan 5,5 persen.

Angka itu cukup optimistis di tengah melambatnya perekonomian global bahkan untuk kawasan Asia Tenggara sendiri.

Nilai tukar mata uang pun menjadi salah satu rujukan yang diacu para pelaku ekonomi dimana tahun depan sesuai asumsi makro RAPBN 2016, nilai tukar mata uang rupiah ditetapkan Rp13.400 per dolar AS.

Pemerintah mengusulkan asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2016 sebesar Rp13.400 per dolar AS dengan memperhatikan berbagai faktor.

“Nilai tukar rupiah diperkirakan sebesar Rp13.400 per dolar Amerika Serikat,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika menyampaikan Keterangan Pemerintah atas RUU APBN Tahun 2016 beserta Nota Keuangannya di depan Rapat Paripurna DPR.

Presiden menyebutkan perbaikan performa perekonomian global yang dimotori oleh Amerika Serikat dan perlambatan perekonomian Tiongkok, depresiasi yuan serta pemulihan ekonomi Uni Eropa dan Jepang, diperkirakan akan berpengaruh pada nilai tukar rupiah tahun depan.

Presiden menyebutkan, asumsi ekonomi makro tahun 2016 ditetapkan dengan mempertimbangkan seluruh dinamika perekonomian global dan domestik serta prospek perekonomian nasional.

Sedangkan laju inflasi diperkirakan mencapai 4,7 persen. Hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti perkembangan harga komoditas pangan dan energi dunia, pergerakan nilai tukar rupiah serta perubahan iklim.

Menurut Presiden, pemerintah akan terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia dan menggerakkan pemerintah daerah dalam rangka pengendalian inflasi nasional.

“Asumsi dasar ekonomi makro yang ditetapkan tersebut diharapkan dapar mencerminkan kondisi perekonomian yang lebih realistis sehingga akan mendorong tingkat kepercayaan pasar yang lebih tinggi,” kata Presiden.

Rupiah Optimis Jika dikatakan sedang menderita, mata uang garuda bukan satu-satunya yang jeblok. Sebab mata uang Asia lain pun rontok bersamaan.

Dari tetangga terdekat yang selama ini kerap menjadi bahan perbandingan, Malaysia, dimana ringgit malah terjun bebas memasuki titik terendah dalam 17 tahun terakhir.

Awal pekan ini misalnya, kurs mata uang ringgit Malaysia melemah menembus 4,0 terhadap dolar AS, Rabu (12/8) untuk pertama kalinya dalam 17 tahun, terpukul oleh kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi dan ketidakpastian politik yang berasal dari skandal keuangan pemerintah.

Analis mengatakan devaluasi yuan yang mengejutkan juga menekan ringgit, mata uang dengan kinerja terburuk di Asia selama tahun lalu.

Bahkan ekonomi Malaysia selama berbulan-bulan telah dirundung kekhawatiran kemerosotan harga minyak akan merugikan pertumbuhan di negara pengekspor minyak itu.

Perdana Menteri Najib Razak juga sedang berjuang menangkis tuduhan korupsi yang berkaitan dengan hubungannya dengan perusahaan investasi negara yang dililit utang 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

“Ketidakpastian politik dan 1MDB juga merugikan kepercayaan konsumen dan bisnis,” kata Chua Hak Bin, ekonom Bank of America Merrill Lynch.

Sejatinya Indonesia mesti berkaca pada negeri jiran itu dan tidak larut untuk saling menyalahkan dengan merosotnya nilai tukar rupiah.

Indonesia mestinya bangkit untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan stabilitas nilai tukar mata uang yang semakin mapan.

Asumsi Realistis Pondasi ekonomi Indonesia diperkirakan semakin kuat bahkan untuk asumsi makronya dalam RAPBN tahun depan.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan penetapan asumsi dasar ekonomi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016 dilakukan berdasarkan perkembangan ekonomi terkini.

“Kita berbicara APBN tahun depan, tapi kita mencari asumsi yang serealistis mungkin sesuai perkembangan terkini tanpa meninggalkan optimisme,” kata Menkeu saat jumpa pers mengenai Nota Keuangan dan RAPBN 2016.

Menkeu menjelaskan pemerintah memberikan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,5 persen, karena kondisi perekonomian global tahun 2016, berdasarkan perkiraan dari lembaga multilateral seperti Dana Moneter Internasional (IMF) akan lebih baik dari 2015.

“Tahun 2016, global prediksinya 3,8 persen, padahal tahun ini hanya 3,3 persen. Perkiraan setengah persen lebih tinggi dari tahun ini untuk pertumbuhan global, angka yang sangat besar. Ini menunjukkan secara eksplisit ada optimisme 2016 akan lebih baik,” ujarnya.

Ia menambahkan angka 5,5 persen tersebut juga masih sesuai dengan range batas bawah 5,5 persen-6,0 persen yang sebelumnya telah diputuskan dalam pembahasan pendahuluan RAPBN 2016 antara pemerintah dengan DPR RI.

“Kita harus realistis tanpa menghilangkan optimisme, apalagi angka asumsi makro pertumbuhan ekonomi 5,5 persen masih lebih tinggi dari angka pertumbuhan ekonomi tahun 2015,” kata Menkeu.

Selain itu, asumsi nilai tukar rupiah yang diputuskan Rp13.400 per dolar AS, sesuai dengan perkembangan ekonomi global yang saat ini terpengaruh dengan rencana penyesuaian suku bunga The Fed serta aksi devaluasi Yuan Tiongkok.

“Kita ambil kurs itu, dengan harapan tahun depan AS sudah lebih ‘settle’ dengan kebijakan The Fed, dan Tiongkok menemukan tingkat tukar yang lebih pas, sehingga gejolak tidak seperti sekarang. Saat ini kurs Rp13.400 yang paling ‘reasonable’,” kata Menkeu.

Ia menambahkan untuk asumsi laju inflasi ditetapkan sebesar 4,7 persen, dengan pertimbangan masih adanya fluktuasi nilai tukar rupiah serta fenomena El Nino yang bisa menyebabkan kekeringan dan berdampak pada musim panen awal tahun 2016.

Asumsi makro lainnya ditetapkan untuk tingkat bunga SPN 3 bulan 5,5 persen, harga ICP minyak 60 dolar AS per barel, lifting minyak mentah 830 ribu barel per hari dan lifting gas 1.155 ribu barel setara minyak per hari.

“Untuk harga minyak, kita ambil 60 dolar AS karena kecenderungannya harga minyak tetap rendah, sampai tahun depan. Untuk lifting minyak, itu dengan asumsi Blok Cepu yang kapasitasnya 165 ribu barel per hari mulai beroperasi penuh,” ujar Menkeu.

Dengan asumsi makro tersebut, pendapatan negara dalam RAPBN 2016 ditetapkan sebesar Rp1.848,1 triliun dan belanja negara Rp2.121,3 triliun. Dengan demikian, defisit anggaran mencapai Rp273,2 triliun atau 2,1 persen terhadap PDB. [tar]


Distribusi: Inilah.com – Pasarmodal

Speak Your Mind

*

*