Indonesia-Cina sepakati Bilateral Currency Swap US$ 20 miliar

Jum’at, 20 November 2015 | 09:55 WIB

Presiden Filipina Benigno Aquino (tengah) bersama pemimpin ekonomi yang tergabung dalam anggota Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) berfoto bersama saat pertemuan APEC ke-21 di Manila, Filipina, 19 November 2015. REUTERS/Erik De Castro

TEMPO.CO, JakartaMenteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong mengadakan pertemuan dengan Wakil Menteri Perdagangan RRT Wang Shouwen di sela pertemuan tingkat menteri Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) di Manila, Filipina. Penggunaan mata uang Cina dalam perdagangan kedua negara jadi isu utama.

Dalam pertemuan tersebut, Lembong menyampaikan bahwa penggunaan mata uang Cina, renminbi (RMB), akan mengurangi tekanan terhadap nilai tukar mata uang Indonesia terhadap dolar Amerika (USD). Hal ini juga berlaku untuk semua negara mitra dagang Cina yang lain.

Menurut Lembong, hal yang sama juga telah disampaikan Presiden Joko Widodo kepada Presiden Xi Jinping di sela-sela pertemuan G20. “Sempat tercapai kesepakatan untuk meningkatkan nilai Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) menjadi senilai US$ 20 miliar,” kata Lembong melalui siaran persnya, Jumat 20 November 2015.

Selain itu, penggunaan renminbi juga diharapkan dapat meningkatkan investasi Cina di Indonesia, dan negara mitra dagang mereka lainnya.Sehingga, defisit yang dialami oleh negara tersebut dapat kembali dalam bentuk investasi. “Investasi RRT pada pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung senilai US$ 5,5 miliar merupakan langkah awal yang disambut baik oleh Pemerintah Indonesia,” kata Lembong.

Indonesia dan Cina juga mendiskusikan upaya untuk menyeimbangkan neraca perdagangan dengan Cina. Sebab, menurut data Badan Pusat Statistik, hingga Oktober 2015 lalu, defisit neraca perdagangan Indonesia dari Cina sudah US$ 12,8 miliar. 

Lembong menyatakan, Wakil Menteri Wang akan membahas penggunaan renmibi dan rupiah dengan Bank of China.”Beliau juga enyampaikan keinginan RRT untuk meningkatkan investasinya di Indonesia di masa mendatang,” katanya. 

Sebelumnya, pemerintah memang menyatakan niat untuk mendorong diterapkannya currency swap dalam aktivitas perdagangan luar negeri. Ini dilakukan untuk mengurangi permintaan dollar di tengah pelemahan kurs rupiah. “Kami intinya ingin mendorong ketika Indonesia berdagang Cina, terutama, langsung saja rupiah dengan renminbi,” kata Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, beberapa waktu lalu.

Menurut Bambang, dalam perdagangan Indonesia denga Cina, aktivitas yang terjadi selama ini adalah dengan mengubah rupiah ke dolar terlebih dahulu, setelah itu baru ke renminbi. Dengan currency swap, proses itu akan lebih cepat karena rupiah akan langsung ke renminbi. “Kita potong paling tidak untuk mengurangi permintaan dollar,” kata Bambang. Dia mengatakan, saat ini Bank Indonesia sedang menyiapkan mekanisme tersebut supaya bisa dinikmati pelaku ekspor impor.

PINGIT ARIA | AMIRULLAH


Distribusi: Tempo.co News Site

Speak Your Mind

*

*