IEA Ingatkan Harga Minyak Dunia Bahayakan Keamanan Energi

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Periode panjang kejatuhan harga minyak dunia dinilai Badan Energi International (IEA) akan memicu kekhawatiran keamanan energi dengan semakin tingginya ketergantungan pada sejumlah kecil produsen berbiaya rendah atau berisiko harga berbalik naik tajam jika investasi jatuh.

Dalam laporan prospek energi dunia terbaru pada Selasa (10/11), IEA mengatakan, jika harga minyak pada tingkat saat ini bertahan selama beberapa dekade, ketergantungan pada minyak Timur Tengah akan kembali ke tahun 1970-an, karena harga akan mendorong sumber-sumber pasokan berbiaya lebih tinggi.

Harga yang lebih rendah, menurut IEA, bisa melemahkan dukungan kebijakan penting untuk transisi energi, yang berarti 15 persen dari efisiensi penghematan akan hilang.

“Ini akan menjadi kesalahan besar untuk indeks perhatian kita terhadap keamanan energi untuk perubahan harga minyak,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol.

“Sekarang bukan waktunya untuk bersantai. Justru sebaliknya: sebuah periode harga minyak yang rendah adalah saat untuk memperkuat kapasitas kita menghadapi ancaman keamanan energi masa depan,” ujar Birol menambahkan.

Laporan ini menemukan bahwa keseimbangan pengetatan minyak akan menyebabkan harga sekitar 80 dolar AS per barel pada 2020, karena kejatuhan dalam harga minyak telah menggerakkan kekuatan yang mengakibatkan pasar menyeimbangkan kembali melalui permintaan yang lebih tinggi dan pertumbuhan pasokan yang lebih rendah.


Distribusi: Republika Online RSS Feed

Speak Your Mind

*

*