Dipicu Sentimen Eksternal, Rupiah Kian Melemah

Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Adek Berry/AFP/Getty Images

TEMPO.CO, Jakarta -Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah 108,5 poin (0,85 persen) ke level Rp 12.870 per dolar, seiring ketidakpastian perkembangan negosiasi utang Yunani dan hasil notulensi FOMC meeting yang bakal dirilis malam nanti. Investor yang enggan menanggung resiko, akhirnya kembali mengakumulasi aset-aset berdenominasi dolar.

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta mengatakan investor memang tetap berfokus pada sentimen eksternal, meskipun data-data ekonomi Amerika Serikat (AS) terbaru tampak memburuk.

Tingginya ketidakpastian yang masih menyelimuti kedua sentimen tersebut, menyebabkan investor tetap memborong dolar sebagai aset berlindung nilai aman (Safe haven). “Belum berakhirnya krisis Yunani, serta spekulasi suku bunga The Fed mendorong investor kembali mengkoleksi dolar,” kata Rangga, Rabu, 18 Februari 2015.

Rangga mensinyalir koreksi rupiah juga mulai terpengaruh kebijakan penurunan suku bunga acuan (BI rate). Lantaran hal tersebut, imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) yang mulai merendah, menyebabkan investor asing mengurangi kepemilikan pada obligasi milik pemerintah. Mengutip data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), yield FR0069 turun ke level 6,7689 persen, sedangkan FR0070 terkoreksi menjadi 6,9718 persen.

Selain rupiah, laju koreksi di pasar uang juga dialami sebagian besar kurs regional. Won turun 0,76 persen ke level 1.110,52 per dolar, Yuan merendah tipis 0,01 persen menjadi 6,2554 per dolar, sementara Rupee terkoreksi 0,25 persen pada level 62,315 per dolar.

MEGEL JEKSON


Distribusi: Tempo.co News Site

Speak Your Mind

*

*