Dana Asing Tinggalkan Bursa Negara Berkembang?

Dana Asing Tinggalkan Bursa Negara Berkembang?

INILAH.COM, Hong Kong – Investor asing tercatat meninggalkan pasar modal negara berkembang pada pekan ini. Investor mencermati kondisi Turki dan pelemahan mata uang di Asia.

“Saya pikir mereka pulang. Mereka memeriksa lagi dan membandingkan dengan aset lainnya secara historis,” kata Marten Hoekstra, CEO Emerging Global Advisors seperti mengutip marketwatch.com, Selasa (28/1/2014).

Investor asing kemungkinan akan membeli beberapa instrumen konvensional. Mereka berpikir saatnya berinvestasi di luar emerging market (EM) atau pasar negara berkembang.

Data Emerging Global Advisors menunjukkan pasar negara berkembang turun antara 5 persen hingga 10 persen. “Ini adalah pekan pelemahan bagi negara berkembang. Saatnya menunggu apakah bank sentral Turki menyelesaikan tugasnya sehingga kekhawatiran mereda,” jelasnya.

Bursa saham secara global melemah dengan kekhawatiran perlambatan ekonomi China dan rencana pengurangan stimulus moneter lagi di AS. Indeks Nikkeiturun 2,7% di bawah level 15.000 untuk pertama kalinya sejak November 2013 lalu.

Pada awal pekan ini, indeks Hang Seng turun 2,1%, indeks Kospi turun 1,7% dan IHSG kehilangan 2,8%. Pemicunya karena dolar jatuh hingga 1 persen.

Investor ramai-ramai masuk ke aset yang aman terhadap gejolak seperti emas yang naik 0,3%. Sepanjang tahun ini emas sudah naik 5,5%.

Pukulan pekan ini datang dari jatuhnya mata uang di Argentina dan Turki. Aksi jual telah menular ke negara lain pada Jumat lalu. Jepang turun 8,1% dengan penguatan yen yang menekan emiten ekspor.

Investor akan memperhatikan langkah pemerintah China untuk menyelesaikan kredit bermasalah di perbankan China. Ancaman jatuh tempo utang akan terjadi pada Jumat pekan ini.

The Fed AS akan melakukan pertemuan nanti malam hingga Rabu besok. Rencananya bank sentral AS akan memutuskan kelanjutan stimulus moneter. Pada Desember 2013 lalu, Fed telah merencanakan untuk mengurangi stimulus moneter menjadi US$75 miliar dari US$85 miliar. Pengurangan ini dapat menarik dolar dari pasar yang berisiko dan mengalami perlambatan pertumbuhan.


Sumber: http://www.inilah.com/rss/feed/pasarmodal/

Speak Your Mind

*

*