BI Pastikan Jaga Rupiah Agar Tak Seperti Krismon 1998

Jakarta -Dolar Amerika Serikat (AS) masih terus menunjukkan keperkasaaannya terhadap mata uang banyak negara, termasuk rupiah. Apalagi menjelang keputusan Bank Sentral AS The Fed terkait kenaikan suku bunga acuan yang direncanakan pekan depan.

Kemarin dolar AS sempat menembus level Rp 12.300 pada titik tertinggi, meski kemudian kembali mengalami penguatan.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan faktor eksternal yang terjadi sekarang tidak bisa terhindarkan.

“Faktor di luar dan ada penguatan di dolar dan rencana AS naikan suku bunga tapi mata uang yang lain apalagi dengan adanya Yuan dilemahkan, justru ada pergerakan dan volatilitas,” kata Agus di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (9/9/2015)

Akan tetapi banyak negara memiliki nasib lebih buruk dibandingkan rupiah. Misalnya Brasil (real) dengan depresiasi 44%, Turki (lyra) terdepresiasi 20%. Sementara Indonesia hanya terdepresiasi 14% dalam kurun Januari – Agustus 2015.

“Rupiah umumnya kondisi baik dan gejala sifatnya temporer,” tegasnya.

Tugas BI, kata Agus adalah memastikan pergerakan rupiah tidak berubah secara drastis dalam waktu cepat. Artinya‎ bila siang ini dolar Rp 14.000, dijaga supaya tidak melemah jadi Rp 20.000 saat sore nanti dan berubah lagi menjadi Rp 10.000 saat esok paginya.

“BI selalu ada di pasar, supaya nggak terjadi kondisi vilatilitasnya tinggi.1997-1998 kan dari 2.500 bisa melemah sampai 15.000. Kita sekarang selalu jaga volatlitas di batas baik dan tidak mengkhawatirkan,” tukasnya.

(mkl/ang)

Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com


Distribusi: finance.detik

Speak Your Mind

*

*