Bank sentral asing tambah porsi di SUN

JAKARTA. Meski nilai tukar rupiah terus melemah, Surat Utang Negara (SUN) domestik tetap menarik bagi asing. Ini terlihat dari kepemilikan SUN oleh bank sentral negara asing yang meningkat.

Per 22 September 2015 Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat kepemilikan bank sentral negara asing mencapai Rp 111,31 triliun atau 8,01% dari total surat utang negara (SUN) yang dapat diperdagangkan. Nilai tersebut setara 21,02% dari total kepemilikan asing di SUN.

Kepemilikan bank sentral asing naik dibandingkan akhir Agustus 2015 yang sebesar Rp 102,24 triliun. Juga dibandingkan akhir 2014 yang mencapai Rp 103,41 triliun atau 8,55% terhadap total SUN yang dapat diperdagangkan.

Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan tren kenaikan mulai terlihat sejak Juli 2015. Pada Juni 2015 porsi bank sentral negara asing masih 19% dari total kepemilikan asing di SUN yang mencapai Rp 537,53 triliun. Porsi tersebut naik menjadi 21,01% pada 22 September 2015.

Menurut pria yang akrab disapa Anto ini, bank sentral asing memburu instrumen bertenor panjang. Tengok saja, kepemilikan asing di SUN bertenor 10 tahun hingga 15 tahun naik jadi Rp 200,2 triliun pada 14 September 2015 dibandingkan akhir 2014 yang sebesar Rp 154,9 triliun.

Menurut Anto, investor melirik obligasi bertenor panjang lantaran memiliki yield yang lebih tinggi ketimbang tenor pendek. “Selain itu, bank sentral asing juga confident dengan kondisi Indonesia sehingga berani membeli tenor yang panjang,” tutur dia.

Investor juga memburu tenor panjang karena adanya potensi penurunan suku bunga bank sentral atau BI rate. Sehingga, seri-seri tersebut akan membagikan keuntungan dari kenaikan harga atau capital gain, dibandingkan SUN bertenor pendek.

Desmon Silitonga, analis Millenium Danatama Indonesia, mengatakan, porsi kepemilikan bank sentral asing di SUN naik karena yield obligasi domestik masih lebih menarik ketimbang negara lain di Asia. Kondisi tersebut ditopang oleh laju inflasi Indonesia yang terkendali. “Meskipun terdapat tantangan volatilitas rupiah, namun spread yield Indonesia masih menarik,” tutur Desmon.

Potensi outflow

Anto mengatakan naiknya kepemilikan bank sentral asing di SUN menguntungkan bagi Indonesia. Pasalnya, investor tersebut memiliki profil investasi jangka panjang. “Sehingga tidak mudah terjadi outflow,” tutur Anto.

Selain itu, masuknya investor tersebut juga akan menambah pasokan dollar Amerika Serikat (AS) di pasar domestik. Maklum, Indonesia tengah membutuhkan suplai dollar AS menyusul nilai tukar rupiah yang terus merosot. Dia memperkirakan, di akhir tahun ini capital outflow tidak akan sebesar pertengahan tahun ini. Pada Agustus 2015, dana asing di SUN keluar Rp 15,52 triliun.

Rinciannya, pada 7 Agustus kepemilikan asing Rp 541,2 triliun, lalu turun menjadi Rp 525,68 triliun pada akhir Agustus. “Dengan adanya outflow yang signifikan di Agustus tersebut, potensi outflow ke depan akan minimal. Tapi dengan syarat rupiah bisa stabil dan yield US treasury tidak naik signifikan,” ujar Anto.

Senada, Desmon mengatakan naiknya porsi asing akan berdampak positif bagi pembiayaan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Namun, masih ada potensi capital outfow akibat ketidakpastian suku bunga bank sentral AS. “Capital outflow juga akan dipicu oleh faktor pelemahan ekonomi Tiongkok,” kata Desmon.

Editor: Barratut Taqiyyah.


Distribusi: Kontan Online

Speak Your Mind

*

*